KISAH NABI IDRIS A.S.

GALIH RINEKSA
XI IPA 2
SMA CP
SELASA, 27 JANUARI 2015 / 7 RABI’UL AKHIR 1436 H
KISAH NABI IDRIS A.S.
بِسۡمِ اللهِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِيۡمِ

Nabi Idris as merupakan keturunan dari Qabil dan Iqlima (putera dan puteri Nabi Adam as) kepada keturununannya inilah Idris ditugaskan Tuhan mengajak kepada kebenaran.
Nabi Idris adalah orang pertama yang menerima wahyu lewat Malaikat Jibril, ketika berumur 82 tahun. Tak ada informasi tentang lokasi pasti mengenai kehidupan Idris (Hurmus al-Haramisah) yang ditugaskan untuk membenahi akhlak anak cucu Qabil ini.
Ada yang menyebut daerah Munaf, Mesir, namun adapula yang menyebut Babilonia. Yang pasti Idris yang sejak kecil belajar ilmu dari Nabi Syits (Putra Adam as), kepadanya telah diturunkan wahyu kenabian.
“Dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS. Maryam: 56-57)
Idris menurut riwayat dalam hadis Bukhari adalah kakeknya bapak Nuh a.s. berarti Nabi Idris merupakan generasi ke enam dari Adam, mengingat Nuh sendiri sebagai keturunan ke sepuluh dari Adam as.
Kelebihan Nabi Idris a.s
Nabi Idris as memiliki beberapa kelebihan alias mukjizat dari Tuhan:
Pertama, dia manusia pertama yang pandai baca tulis dengan pena. Kepada Idrislah Allah swt memberikan 30 sahifah alias suhuf lembaran-lembaran ajaran Tuhan, berisi petunjuk untuk disampaikan kepada umatnya.
Kedua, Nabi Idris diberi bermacam-macam pengetahuan mulai dari merancak (merawat) kuda, ilmu perbintangan (falaq), sampai ilmu berhitung alias matematika.
Ketiga, Nama Nabi Idris sendiri berasal dari kata Darasa yang artinya belajar. Idris memang sangat rajin mengkaji ajaran Allah swt yang diturunkan kepada Adam dan Nabi Syits, bahkan yang langsung kepada dirinya. Nabi Idris juga sangat tekun mengkaji fenomena alam semesta, yang semua merupakan ayat dan pertanda dari Tuhannya.
Keempat, Nabi Idris as ialah orang yang pertama pandai memotong dan menjahit pakaiannya. Orang-orang sebelumnya konon hanya mengenakan kulit binatang secara sederhana dan apa adanya untuk dijadikan penutup aurat.
Idris yang haus akan ilmu pengetahuan sehari-hari memang disibukkan oleh berbagai kepentingan, namun ia tetap selalu ingat kepada Tuhan. Dengan berbekal pengetahuan yang mencapai kelengkapan, dengan kekuatan dan kehebatan yang mumpuni.
Idris menjadi gagah berani tak takut mati, tak gentar kepada siapa saja, terutama dalam menyadarkan keturunan Qabil-Iqlima yang saat itu penuh dengan kesesatan. Dapat dipahami jika ia mendapat gelar kehormatan Asadul Usud alias “Singa di atas segala singa” dari Allah swt.
Kepada kaumnya, Idris diperintahkan memberantas kebiasaan melakukan kenistaan. Idris ditugaskan untuk membenahi pekerti rendah, zalim terhadap sesama, suka permusuhan, serta suka berbuat kerusakan. Kepada keturunan Qabil, Idris menandaskan, iman kepada Allah bisa memberikan keberuntungan. “Untuk itu wahai kaumku,” kata Idris, “Peganglah tali agama Allah, beribdalah hanya kepada Allah. Bebaskan diri dari azab akhirat dengan cara amal saleh dan kebaikan. Zuhudlah di dunia dan berlaku adil, mengerjakan shalat sesuai dengan ajaran Tuhan. Berpuasa pada hari tertentu setiap bulan, jihad melawan musuh agama bikinan setan, serta keluarkan zakat dan sedekah membantu kaum papa dan kaum yang ditimpa kemalangan”
Selain itu, Idris juga selalu menyatakan beberapa pesan kebajikan:
Pertama, salat mayit lebih sebagai penghormatan, karena pemberi syafaat hanya Tuhan sesuai ukuran amal kebajikan.
Kedua, besarnya rasa syukur yang diucapkan, tetap tidak akan mampu mengalahkan besarnya nikmat Tuhan yang diberikan.
Ketiga, sambutlah seruan Tuhan secara ikhlas, untuk shalat, puasa, maupun menaati semua perintah-Nya.
Keempat, hindari hasad alias dengki kepada sasama yang mendapat rezki, karena hakikat jumlahnya tidak seberapa.
Kelima, menumpuk numpuk harta tidak ada manfaat bagi dirinya. Keenam, kehidupan handaknya diisi hikmah kebijakan (Ma’al anbiya’ fil Quranil Karim:78)
NABI IDRIS DAN IBLIS
Sudah menjadi suatu kelaziman bagi iblis la’natillah ‘alaihi dari zaman ke zaman selalu mengganggu manusia di dalam dunia ini supaya lalai dan luput daripada beribadat kepada Allah, karena itu sudah menjadi tujuan khusus bagi iblis, jangankan kita manusia biasa, para nabi-nabi Allah pun mereka goda dengan berbagai cara, walaupun hakikatnya mereka tidak sanggup memperdayakan para nabi-nabiyullah, karena para nabi-nabi tersebut sudah ma’shum disisi Allah Swt.
Mulai dari nabi adam ‘alaihi salam dahulu sewaktu beliau masih berada didalam syurga dan masih merasakan kenikmatan syurga yang luar biasa, para iblis sudah mulai melakukan pekerjaan buruk mereka dengan cara menggoda nabi adam agar adam memakan buah-buahan yang dilarang oleh Allah untuk dimakan yaitu buah khuldi, yang sehingga nabi adam tergoda dengan rayuan iblis, karena demikian nabi adam diturunkan kedunia ini karena sudah lalai beliau dari perintah Allah disebabkan godaan iblis la’natillah ‘alaihi .
Maka kejadian yang hampir serupa dengan kejadian demikian juga terjadi pada nabi idris ‘alaihi salam, para iblis datang kepada nabi idris ‘alahi salam dengan membawa pertanyaan-pertanyaan yang bersifat mengejek nabi idris dan mengolok-olok, yang sehingga kisah nabi idris ‘alaihi salam tersebut diabadikan didalam suatu kitab karangan syeihk Asy-Syarqawi, yang ceritanya seperti demikian :
Tersebut di dalam kitab Syarqawi ‘Alal Hud-Hudy :

جاءه اٍبليس فى صورة انسان بقشرة بيضة وهو يخيط حلة, ويقول فى كل دخلة ابرة وخرجتها سبحان الله والحمد الله فقال هل الله تعالى بقادر ان يجعل الدنيا فى هذه القشرة. فقال قادر ان يجعل الدنيا فى سم أى خرق هذه الابرة ونحس احدى عينه فصار اعوار..
Terjadilah suatu kisah diantara nabiyullah Idris ‘alaihi salam dengan iblis la’natillah ‘alaihi pada suatu hari, dimana pada masa itu nabiyullah Idris ‘alaihi salam sedang menjahit pakain baru.
Memang sudah menjadi pekerjaan yang lazim menjahit itu bagi nabiyullah Idris ‘alaihi salam, yang sehingga beliau sering menjahit pakaian orang-orang miskin tanpa mengambil upah sedikit pun.
Namun walaupun nabiyullah Idris selalu sibuk dengan pekerjaannya yaitu menjahit pakaian tapi beliau juga tidak pernah luput daripada mengingat / berzikir kepada Allah Swt. Yang sehingga beliau disamping menjahit beliau selalu berzikir kepada Allah dengan mengucapkan “subhanaallah wal hamdulillah” pada tiap-tiap satu kali jahitan, maka bayangkan bila dalam satu hari beliau menyelesaikan pekerjaannya berjumlah satu pakaian, maka berapa jahitan yang sudah beliau lakukan ?? dan berapa zikirkah yang sudah beliau ucapkan ?? subhanallah !!!
Maka sewaktu nabi Idris sedang asyiknya berzikir kepada Allah sambil menjahit pakaian baru, datanglah seorang iblis yang menyerupai seorang manusia dengan membawakan sebutir kulit telur ditangannya, maka iblis itu bertanya kepada nabiyullah Idris ‘alaihi salam :”wahai nabiyullah idris ‘alaihi salam, apakah Allah Swt yang anda anggap sebagai Tuhan itu sanggup memasukkan dunia ini kedalam kulit telur yang saya pegang ini ???
Lalu nabi Idris ‘alaihi salam menjawab pertanyaan iblis tersebut dengan jawaban yang lebih aneh lagi, beliau mengatakan :”jangankan memasukkan dunia ini kedalam kulit telur tersebut,, memasukkan dunia ini saja kedalam lobang jarum di tanganku ini, Allah pun sanggup melakukannya, karena Allah maha kuasa diatas segala sesuatu, lalu nabiyullah Idris setelah menjawab seperti demikian, tanpa basa basi beliau mengambil jarum jahitan ditangannya itu dan langsung menusukkan ke salah satu mata si iblis la’natillah ‘alaihi tersebut, dan akhirnya iblis tersebut menjadi buta”.
*** Lalu Imam Asy’ari menerangkan lebih jelas tentang jawaban diatas, Berkata Imam Asy’ari Rahimallahu:
Jawaban nabiyullah idris tersebut sangat simple/ijmal, dan harus diperjelas dengan secara tafsili (terperinci).
Apabila yang dimaksud oleh yang bertanya adalah dunia ini seperti hakikatnya yaitu besar dan kulit telur juga seperti hakikatnya yaitu kecil, maka demikian itu mustahil pada akal, sesuatu yang sya_annya (bentuknya) besar bisa masuk kedalam sesuatu benda yang berbentuk kecil.
Namun apabila yang dimaksud oleh yang bertanya Adalah, apakah Allah sanggup mengecilkan dunia ini, yang sehingga bisa dimasukkan kedalam kulit telur ini ?? atau apakah Allah bisa membesarkan kulit telur ini yang sehingga dunia ini bisa dimasukkan kedalamnya ??
Maka kalau demikian yang dimaksudkan, maka itu tidak mustahil pada akal
Tetapi oleh nabi idris ‘alaihi salam tidak menjawab pertanyaan iblis tersebut dengan terperinci sebagaimana yang telah dijelaskan oleh imam Asy’ari, karena iblis tersebut bertanya bukan untuk tujuan mengetahui persoalan tersebut, tapi pertanyaan itu dilemparkan kepada nabi idris a’laihi salam dengan niat memperolok-olok/mengejek nabi idris ‘alaihi salam. Maka jawaban yang pantas bagi orang yang bertanya seperti demikian adalah seperti yang dilakukan oleh nabi idris ‘alaihi salam tersebut.
SUMBER
1. http://ijal-mantap.blogspot.com/2012/01/kisah-iblis-lanatillah-alaih-mencoba.html
2. http://www.islamnyamuslim.com/2013/06/kisah-nabi-idris-as.html

اَلۡحَمۡدُ لِلّٰهِ رَبِّ الۡعٰلَمِيۡنَۙ‏

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s